Opini
Oleh : Atut Dwi Sartika, S.Pd, M,Pd
( Guru SMPN 8 Metro dan CGP Angkatan 5 Kota Metro)
Ki Hadjar Dewantara adalah salah seorang patriot paripurna yang perkataannya, sikap hidupnya tindak-tanduknya, kesetiaan terhadap nusa bangsanya tidak pernah bertentangan satu sama lain. Beliau adalah seorang patriot dan pendidik yang kehidupannya dalam segala hal dapat dicontoh oleh semua muridnya, baik murid di dalam perguruan Taman Siswa maupun muridnya di luar perguruan.Dan beliaulah salah seorang yang pertama mengerti bahwa kebudayaan dan kesenian Nasional adalah faktor yang sangat penting untuk mendidik murid menjadi patriot sejati yang berkepribadian Indonesia (pembentukan karakter).
Menurut Ki Hadjar dewantara, mendidik anak itulah mendidik rakyat, keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada jaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orang tua pada waktu kita masih kanak-kanak. Sebaliknya anak-anak yang pada waktu ini kita didik kelak akan menjadi warga negara kita, begitu besarnya tanggung jawab pendidikan bagi pembentukan generasi mendatang sebagai warga negara, maka mendidik anak berarti menciptakan peradaban sebuah bangsa.
Menurt Ki Hadjar Dewantara Pengaruh pengajaran umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedangkan merdekanya hidup batin itu terdapat dari pendidikan. Manusia merdeka yaitu manusia yang hidup lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar pada kekuatan sendiri.
Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai anggota dari persatuan (rakyat). Di dalam hidup merdeka maka seseorang harus senantiasa ingat, bahwa ia hidup bersama-sama orang lain, yang tergolong menjadi suatu bagian dan persatuan manusia yang juga berhak menuntut kemerdekaannya.
Dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, dan dapat mengatur dirinya sendiri.
Relevansi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dengan konteks pendidikan Indonesia dan konteks pendidikan di sekolah
Pengajaran adalah tidak lain dari pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan serta juga memberi kecakapan kepada anak-anak yang kedua duanya dapat berfaedah buat hidup anak-anak baik lahir maupun batin, dan secara lebih khusus pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak dengan maksud menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Ini berarti bahwa walaupun pendidikan itu hanya “menuntun”akan tetapi besar sekali manfaat bagi tumbuh kembangnya anak-anak, terkait dengan kodrat dan keadaan masing-masing anak.
Pemikiran dan Pemahaman Ki Hadjar dewantara ini tentulah tidak bertentangan dengan konteks pendidikan di sekolah, dimana capaian kurikulum yang ingin diraih juga harus melihat kondisi anak sebagai peserta didik yang sejatinya diperlakukan tidak sama rata namun menyesuaikan dengan kondisi anak dengan tetap mengacu kepada tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Contoh : bagi peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus atau berhubung dengan kodrat dan keadaan masing-masing anak, jikalau tidak baik dasarnya maka kita mengerti ia harus mendapat tuntunan agar bertambah baiklah budi pekertinya, dst.
Pelaksanaan konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara di sekolah dan apakah memiliki kemerdekaan menjalankannya sebagai guru?
Secara umum pendidikan saat ini telah melaksanakan konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara walaupun mungkin masih jauh dari sempurna dan sedikit banyak telah memiliki kemerdekaan dalam menjalankannya walau pada tahap awal asessmen peserta didik, proses dan akhir tuntutan evaluasi kurikulum dan capaian kurikulum hal tersebut masih memiliki kesenjangan yang sangat jauh, dimana pendidikan kita saat ini hanya memusatkan pada keutamaan evaluasi ranah Kognitif anak sehingga pendidik pada akhirnya hanya lebih besar kearah mengejar target capaian kognitif kurikulum dan mengabaikan ranah afektif dan psikomotorik anak.
Selama ini, sebagian kita mungkin hanya mengingat Ki Hadjar Dewantara melalui 3 semboyan konsep among nya yaitu :“ Ing Ngarso Sungtulodho, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani”.
Dalam pemahaman lebih jauh ternyata Ki Hadjar Dewantara juga mengenalkan Asas Trikon dalam Pendidikan.. Trikon merupkan singkatan dari Kontinyuitas, Konvergensi dan Konsentris, dalam pemahaman ini dimaknai bahwa perubahan dalam pendidikan sebuah keniscayaan dengan syarat Kontinyuitas : berkelanjutan, Konvergensi : memanusiakan manusia dan konsentris : menghargai keragaman yang ada.
Pada pemahaman Trikon ini, anak diibaratkan jarum jam, berputar sesuai fungsinya, dimana jarum jam mempunyai kecepatan dan irama yang berbeda-beda namun tetap bergerak dinamis mengikuti nilai-nilai kehidupan mereka. Peran pendidik selayaknya batu jam yang menggerakkan system dalam jam tersebut, tentu saja dengan peran dan kecepatan yang berbeda, selaras sekali dengan dasar pendidikan yang dikemukakan Ki Hadjar Dewantara.
Dasar-Dasar pemikiran Ki Hadjar Dewantarameliputi :
- Menuntun, Maksud dari kata menuntun yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia dan anggota masyarakat.
- Petani, Pendidik diibaratkan sebagai petani, apabila ia menanam bibit jagung ia hanya dapat memperbaiki kondisi tanahnya, membasmi ham yang ada pada jagung tersebut, ataupun memberi pupuk pada jagung, menuntun tumbuh jagung tersebut, kita tidak bisa mengharapkan jagung berubah menjadi padi, begitupun pada anak, kita hanya bisa menuntun mereka tumbuh dengan selayaknya mereka mempunyai bakat dan minatnya.
- Budi Pekerti, Budi pekerti adalah perpaduan harmonis antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak sehingga menimbulkan semangat dari dalam diri peserta didik.
- Bermain, Bermain adalah merupakan kodrat anak, aktivitas bermain adalah bagian dari dinamika belajar terpadu yang ada pada setiap tahap tumbuh kembang anak, jadi kita sisipkan permainan yang mengedukasi mereka agar pembelajaran kita lebih menyenangkan tidak membosankan bagi anak, sehingga senang dalam belajar.
- Berpihak pada anak (berhamba pada anak), Mendidik berupaya memenuhi kodrat tumbuh kembang anak, dengan menciptakan pembelajaran yang berpusat pada anak, pembelajaran yang bermakna, bahwa pembelajaran itu tidak harus dilakukan di kelas, dan yang tidak boleh dilupakan dalam proses pendidikan yang berpihak pada anak di dalamnya kita harus menyelaraskan kodrat alam dan kodrat zaman anak, sehingga kecakapan abad 21 tetap dapat diraih dengan tetap memperhatikan kebutuhan anak.
Intisari pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan adalah ;
Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan, dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat.
Penulis memandang diri sebagai pembelajar (guru) jika dikaitkan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantarayaitu :
- Bahwa sebagai seorang pendidik saya harus bias melayani segala bentuk kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda (berorientasi pada anak).
- Saya harus bias memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide berfikir kreatif, mengembangkan bakat/ minat siswa (Merdeka Belajar), tapi kebebasan itu bukan berarti kebebabsan mutlak, perlu tuntunan dan arahan dari guru supaya anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
- Saya akan tetap terbuka dan mengikuti perkembangan zaman yang ada namun tidak semua yang baru-baik, jadi perlu diselaraskan. Indonesia memiliki potensi kultural yang dapat dijadikan sumber belajar, dan dasar pendidikan anak berhubung dengan kodrat alam dan kodrat zaman, dimana pendidikanlah yang menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan diantara keduanya.
Sebagai seorang pemelajar (murid) jika dikaitkan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yaitu :
- Saya akan menjadi murid yang menjalani pendidikan dengan kemerdekaan belajar dan memiliki kebebasan mengembangkan ide, berfikir kreatif, mengembangkan minat dan bakat dengan tuntunan bapak ibu guru, sehingga tidak kehilangan arah.
- Saya akan bersikapterbuka dengan perkembangan zaman dalam membekali diri dengan kecakapan abad 21 dan tetap memiliki budi pekerti yang baik dalam suasana belajar yang menyenangkan.
Apa itu Kurikulum Merdeka Belajar ?
Menurut BSNP atau Badan Standar Nasional Pendidikan, pengertian Kurikulum Merdeka Belajar adalah suatu kurikulum pembelajaran yang mengacu pada pendekatan bakat dan minat.
Inti dari Kurikulum Merdeka adalah Merdeka Belajar.Konsep ini dibuat agar siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing.( Nadiem secara virtual 11/02/2022)
Dari pengertian di atas jelaslah bahwa Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi rujukan dan selaras dalam penerapannya pada Kurikulum Merdeka Belajar, dimana proses pembelajarannya menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran (student center) dan pendidikan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan peserta didik demi menumbuh kembangkan minat dan bakat siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.
Kesimpulan : dengan memahami filosofi pemikiran Ki hadjar dewantara dan kaitannya dalam penerapan Kurikulum merdeka Belajar maka akan terwujudnya guru yang lebih menginspirasi bagi anak didik dan akan lebih fokus dalam melakukan pembelajaran di kelas mengejar ranah kebermaknaan dimana anak dalam prosesnya lebih merasakan dituntun dan lebih mengalami dan teraplikasi dalam kehidupan nyatanya di masyarakat, denga demikian akan tercipta karakter peserta didik yang merdeka namun mengerti batasannya dalam kemerdekaan dan menjadi individu yang lebih kuat dan berkarakter dalam memahami konsep diri dan memandang kehidupan dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya.
Semoga Alloh SWT, Tuhan YME menguatkan kita untuk menjalankan proses pendidikan ini bagi terciptanya budaya dan peradaban baik bagi bangsa ini, aamiin.
#Salam Guru Penggerak.
Sumber :
- Webinar Virtual Nadiem Makarim 11/02/202
- Platform Kurikulum Merdeka
- Buku Karya Ki Hadjar Dewantara Pendidkan dan Kebudayaan, Cetakan kedua 1977)
